Mengapa harus sunat?

why

Ada 2 alasan yang mendasar yang biasanya mendorong orang untuk melakukan circumsisi.

1). Agama

Di dunia ini ada dua agama besar yang mewajibkan khitan pada laki-laki, Islam dan yahudi. Di Indonesia hampir 100% laki-laki dewasa muslim sudah melaksanakan khitanan.

Sedangkan untuk khitan pada wanita atau biasanya disebut khifadh, masih ada perbedaan pendapat tentang hukum pelaksanaanya, ada sebagian ulama yang menganjurkan, adapula yang mewajibkannya.

2). Medis

Seseorang dikhitan atas indikasi medis biasanya karena ada kelainan pada bentuk anatomis dari penis atau prefusiumnya. Ada juga yang didasari karena adanya kekhawatiran terjangkit oleh penyakit-penyakit menular seksual, karena berdasarkan penelitian yang dilakukan bahwa laki-laki yang tidak dikhitan lebih beresiko 2 kali lipat terinfeksi penyakit menular seksual khususnya HIV. (Nurul Arifin.com)

Dikhitan tidaknya laki-laki tenyata mempunyai efek yang besar terhadap pendamping hidupnya (istrinya), menururt Dr. Saboe dalam bukunya, Kesehatan dan Syariat Islam, mengutip sebuah hasil penelitian seorang dokter Jerman yang menyatakan bahwa di seluruh dunia setiap tahun terjadi kematian sekitar 40.000 wanita akibat kanker leher rahim. Hasil penelitian juga menyebutkan bahwa penyakit yang disebut terakhir ini sangat jarang ditemukan pada istri yang suaminya telah dikhitan.

Karena alasan hubungan kesehatan seperti tersebut di atas, telah banyak warga masyarakat non-Muslim di dunia mengkhitankan anak laki-lakinya. Hal ini biasanya dilakukan beberapa hari setelah anak lahir di rumah sakit.

Pada anak kecil yang akan dilakukan circumsisi dengan alasan medis adalah anak-yang mengalami phimosis dan paraphimosis. Phimosis adalah suatu keadaan dimana ujung prefusium mengalami penyempitan sehingga tidak dapat ditarik ke arah proximal melewati glans yang biasanya dapat mengkibatkan obstruksi air seni. Sedangkan paraphimosis adalah keadaan dimana prefusium yang bisa ditarik kearah proximal melewati glans penis dengan sedikit paksaan tapi tidak bisa dikembalikan ke arah distal (semula). Kedua kelainan ini bila dibiarkan bisa mengakibatkan peradangan pada penis yang bisa menimbulkan komplikasi yang tidak diinginkan oleh pasien.

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply